Tahun 2018, Rendang akan Diekspor dan Tahan 1,5 Tahun
Rendang 
Minggu, 31 Desember 2017 22:29 WIB

PADANG – Sumatera Barat optimis tahun 2018 akan lebih baik dari 2017. Selain pertumbuhan ekonomi Sumbar yang ditargetkan menjadi 5,1 hingga 5,5, ranah Minang juga akan melahirkan inovasi-inovasi yang ‘brilian’, salah satunya rencana ekspor rendang ke luar negeri.

Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno mengungkapkan, tahun 2018 mendatang akan diisi dengan sejumlah inovasi, termasuk pengolahan olahan kuliner khas Minang yakni rendang sebagai komoditas ekspor. Pemprov Sumbar bekerja sama dengan Puspitek LIPI untuk mentransformasikan olahan rendang agar memiliki periode simpan lebih lama.Ditargetkan, rendang nantinya bisa disimpan hingga 1,5 tahun dan memungkinkan untuk diekspor ke pasar luar negeri seperti Eropa.”Ekspor meningkat akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Uang banyak beredar dari devisa, sehingga kemiskinan berkurang dan pengangguran berkurang,” kata Irwan.Dikatakan, tahun 2017 ditutup dengan nafas lega oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Barat. Roda ekonomi di provinsi yang menggantungkan pertumbuhannya dari konsumsi masyarakat dan pengeluaran pemerintah ini, bisa dibilang ‘mulus’.

Tingkat inflasi yang rendah dan kinerja perdagangan yang terus merangkak naik, menjadi dua prestasi yang patut disyukuri di tengah ekonomi global yang masih mendung. Tapi tantangan langsung mengadang di tahun 2018 nanti.Pilkada, potensi kenaikan harga minyak dunia, dan risiko penurunan harga komoditas ekspor membayangi ekonomi Sumatra Barat di 2018. Lantas apa arah kebijakan ekonomi Sumbar tahun depan?Prinsip kebijakan ekonomi Sumatra Barat tahun 2018 sebetulnya tak jauh berbeda dengan 2017 ini. Sejumlah kebijakan penting tetap dilanjutkan seperti penarikan arus wisatawan ke Sumbar, dorongan insentif bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), dan menyedot laju investasi.

Gubernur Irwan Prayitno mengungkapkan, permasalahan ekonomi di Sumatra Barat dari tahun ke tahun sebetulnya tergolong seragam.Sebagai daerah yang tidak bergantung pada komoditas pertambangan dan migas, Sumatra Barat sudah ‘terbiasa’ dengan roda ekonomi yang didorong konsumsi rumah tangga.”Sumbar ini agraris, di mana pertumbuhan memang tak akan tinggi betul, namun ketika ada gejolak tidak ada anjlok betul,” jelas Irwan. *** 
Sumber:  https://www.gosumbar.com/berita/baca/2017/12/31/tahun-2018-rendang-akan-diekspor-dan-tahan-15-tahun#sthash.qGzDyQ0O.dpbs