Menikmati kopi kawa daun di pinggiran objek wisata Tarusan Kamang

Menikmati kopi kawa daun di pinggiran objek wisata Tarusan Kamang(Kompas.com/ Rahmadhani)

Belakangan ini, warung kopi kawa daun mudah ditemui di sekitar Kota Padang, di sepanjang perjalanan dari Batusangkar menuju Kota Bukittinggi, hingga dari Kota Bukittinggi menuju Kota Payakumbuh.

Kopi kawa daun menarik minat karena cita rasa yang berbeda dari kopi hitam biasa, serta bahan baku dan tampilannya yang menarik.

Kopi khas Sumatera Barat ini berasal dari seduhan daun kopi seperti teh, tidak menggunakan biji kopi seperti kopi hitam lazimnya.Warnanya pun lebih mengarah ke bentuk teh.

Dari cerita turun-temurun, penikmat kopi kawa daun mengetahui bahwa konsumsi kopi ini muncul akibat tanam paksa di zaman Belanda. Namun, ada cerita lain yang berbeda.  

 

Untuk meminumnya tidak menggunakan gelas, tetapi menggunakan batok kelapa agar aroma lebih harum dan cita rasa kopi tetap terjaga.

Cerita turun-temurun

Tak hanya itu, sejarah awal mula minuman kopi kawa daun ini muncul di tengah masyarakat Sumatera Barat juga menarik minat pecinta kopi, bahkan bukan pecinta kopi.

Menurut cerita yang berkembang, kopi kawa daun telah dikenal orang Minangkabau sejak ratusan tahun lalu dan hanya untuk masyarakat kalangan bawah, rakyat jelata.

Karena biji kopi harus dijual kepada Belanda, masyarakat yang ingin menikmati kopi hanya bisa menyeduh daunnya saja.

Kisah kopi kawa daun yang lahir dari peristiwa tanam paksa juga diketahui oleh Nazimuddin Malin Katumanggungan, pebisnis kopi kawa daun sejak 2015 di kawasan Tarusan Kamang. Kisah ini didapat dari ibunya.

Tempat berjualan Malin sendiri persis berada di pinggir Bukit Barisan yang dulunya dikenal sebagai pusat penghasil kopi robusta di daerah ini.

Menurut Malin, sapaan akrab Nazimuddin, untuk mendapatkan racikan yang enak, dibutuhkan daun kopi tua bewarna kekuning-kuningan yang sudah hampir gugur ke tanah. Usai dipetik, daun ini setidaknya dijemur dulu di bawah sinar matahari sekitar satu jam.

 

“Jika langsung dikeringkan di atas tungku perapian, rasa dari kopi yang dihasilkan akan pahit, tak lagi nikmat,” ucapnya.

Usai dijemur, barulah daun kopi dikeringkan di atas tungku perapian. Proses pengeringan juga tidak boleh terlalu lama, hanya beberapa jam saja.

Tujuannya agar daun bisa disimpan untuk beberapa hari dan bisa dikeringkan kembali di atas perapian saat akan benar-benar diseduh. Saat akan diseduh inilah daun kopi harus benar-benar kering hingga bisa disajikan seperti serbuk teh.

“Untuk mendapatkan hasil terbaik memang harus telaten dan sabar. Saat menjemur di atas tungku perapian juga harus telaten, lengah sedikit saja, api bisa menyambar daun kopi yang kering hingga jadi abu, sehingga terpaksa harus dibuang,” tuturnya.

Malin juga tak mau ketinggalan menyajikan variasi dari minuman kopi kawa daun ini. Dia menyediakan gula maupun saka sebagai pemanis kopi ini, termasuk juga membuat variasi dengan menambah susu dan menjadikan kopi kawa daun dalam sajian teh talua.

“Ya, kenapa masih disebut teh talua, padahal sudah ditambah kopi, karena memang rasa kopi kawa daun ini lebih mendekati teh hitam tanpa gula,” ungkapnya.

Dari segi penyajian, Malin juga tak mau ketinggalan. Jika kopi kawa daun disajikan di dalam batok kelapa, teh talua malah disajikan dalam gelas berbentuk bambu yang sendoknya juga dibuat khusus dari bambu.

“Ini kesukaan bule,” tuturnya.

Dulu, kisah Malin, kopi kawa daun tidaklah disajikan seperti saat ini, dimana bisa diminum dalam waktu hingga berjam-jam selagi penikmatnya bercakap-cakap. Dulu, meminum kopi kawa daun ini seperti shoju di Korea, yang jika dituang dalam gelas, sudah harus ditengak dalam satu kali minum.

“Serbuk kawa daun diletakkan dalam wadah gelas berbentuk bambu, disiram air panas. Pada bagian ujungnya ditutup dengan ijuk. Saat kopi dituang, ijuklah yang berfungsi menyaring serbuk kopi ini,” ucap pria yang rambutnya sudah memutih ini.

Malin juga menambahkan, warung kopi yang dibukanya ini juga untuk membangkitkan nostalgia generasi yang dulunya sempat menikmati kopi kawa daun ini di tahun 80an ke bawah.

“Bagi yang tahu cita rasa kopi ini, tidak akan mau memakai gula, lebih suka menggunakan saka dengan adonan kopi yang lebih pekat. Tujuannya agar cita rasa kopi tidak kalah dengan rasa manis. Dan dari pecinta kopi kawa daun di era 80an inilah, kami meyakini bahwa kawa daun lahir karena upaya tanam paksa yang dilakukan pemerintah Belanda saat itu,” ucap Malin.

Kopi kawa dari Payukumbuh, Sumatera Barat.
Kopi kawa dari Payukumbuh, Sumatera Barat.
Bukan karena tanam paksa 

Pakar sejarah dari Universitas Andalas Prof Gusti Asnan justru memiliki pendapat berbeda tentang lahirnya kopi kawa daun ini. Menurut sejarah, kebiasaan meminum kopi kawa daun ini bukan dilatarbelakangi oleh peristiwa tanam paksa yang dilakukan oleh Belanda.

“Jauh sebelum Belanda masuk, orang Minangkabau sudah mengenal daun kopi (kawa) sebagai minuman. Mereka sejak awal memang tidak mengkonsumsi biji kopi untuk minuman,” ujarnya mengurai sejarah.

Biji kopi sendiri mulai dikenal ketika akhir abad ke-18, sejak saudagar Amerika datang membeli biji kopi. Saat inilah, orang Minangkabau baru menyadari biji kopi bernilai tinggi daripada yang mereka kenal sebelumnya.

Hal ini menampik anggapan bahwa kopi mulai ditanam di Sumatera Barat sejak Belanda datang ke daerah ini. Alasan lainnya, menurut Gusti Asnan, sebelum kedatangan Belanda, kopi telah tumbuh subur di pedalaman.

Sementara itu, Belanda sendiri pada awal abad ke-19 belumlah berhasil masuk ke pedalaman Minangkabau, sehingga tanam paksa kopi tidak bisa disebut sebagai cikal bakal lahirnya kebiasaan minum kopi kawa daun.

Ini artinya, beberapa abad sebelum Belanda datang, kopi kawa daun sudah dikenal masyarakat Minangkabau.

Sementara itu, penerapan tanam paksa kopi dan pemungutan pajak sebesar 20 persen kepada pribumi telah menyebabkan terjadinya peristiwa pemberontakan pajak di Sumatera Barat pada tahun 1908.

Di daerah Kamang, Kabupaten Agam juga meletus pemberontakan serupa yang dikenal dengan Perang Kamang. Hal ini jugalah yang melatarbelakangi kenapa masyarakat sekitar meyakini kebiasaan minum kopi kawa daun lahir akibat tanam paksa dari Belanda.

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2017/09/29/07300031/cerita-di-balik-daun-kawa-kopi-seduhan-daun-khas-sumatera-barat-2