Keluarga besar Bengkel Teater Rendra(Dok. Clara Sinta) 
Catatan Kaki Jodhi Yudono
 
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Segala yang akan terjadi di depan kita adalah rahasia Allah. Untung dan malang datang tanpa kabar, tiba-tiba dan tanpa disangka. Kehidupan pun senantiasa mengajarkan, keduanya biasa datang berendeng. Seperti kesedihan yang sedang kita alami kini.
 
Kemalangan dan keberuntungan bagai sekeping mata uang, tak terpisahkan. Cuma waktu sajalah yang menjadi penanda, kapan yang satu berada di permukaan dan yang lainnya berada di sebaliknya.
 
Ya, ya, pada waktu itulah Tuhan menggenggam rahasia kehidupan mahluk-mahluknya, sebagai pelajaran agar manusia menyadari keterbatasannya dan tidak sombong.
 
Maka para Nabi pun mengajarkan kepada kita agar tidak mencintai dunia semata. Sebab dunia hanyalah tempat persinggahan yang fana. Cinta hanya kepada dunia menyebabkan manusia menjadi lupa kehidupan abadinya di akhirat. Manusia pun bisa berkaca pada kisah-kisah umat sebelumnya, tentang bagaimana sebuah kaum dihancurkan karena mereka cinta dunia secara berlebihan seolah-olah mereka akan hidup abadi.
 
Itulah sebabnya, kerap benar Tuhan memerintahkan kepada kita agar senantiasa berpikir mengenai hidup dan kehidupan setelah mati, hingga kita mengerti bahwa yang kita kejar bukan cuma hari ini, tetapi juga hari nanti.
 
Dengan mengingat kematian manusia akan lebih berendah hati dan kian mengerti betapa ada negeri abadi yang menjadi tujuan setelah mati. Sampai titik ini, kita pun terbebas dari rasa cemas jika maut tiba-tiba menjemput kita kapan pun dan di mana pun kita berada.
 
Sebelum yang mendadak tiba, segeralah mengerjakan yang baik-baik yang kita bisa. Ketika sedang ada rezeki segerakanlah bersedekah sebelum kebutuhan lain tiba.
 
Tentu saja, seperti yang diungkapkan oleh Hamka, “Iya, hari ini memang sedang hujan, tetapi bukankah besok langit akan terang?”
 
Kepedihan dan persoalan yang sedang kita hadapi, pastilah juga akan segera berlalu dan kita akan beroleh kebahagiaan dan mampu mengatasi persoalan itu. Sebab, bukankah kita tak tinggal diam saat persoalan datang? Kita terus bergerak untuk mengurai persoalan hingga menemukan jalan keluar.
 
Membuka tahun ini, ada baiknya kita menyimak sebuah puisi yang ditulis penyair besar kita WS Rendra, saat terbaring di ranjang sebuah rumah sakit, beberapa saat menjelang kematiannya.
 
WS Rendra:
 
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milik-ku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
 
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
 
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
 
Kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukum bagiku
 
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
 
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
 
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”….
 
@JodhiY
 
 
Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2015/01/05/13134511/Berkaca.pada.Puisi.Rendra