marapi 2

 Oleh  A. Sanusi

(Bagian 1)

Nama Nagari di Ranah Minang ini: Rao Rao.  Letaknya di Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Berjarak sekitar 13 km dari Batusangkar, ibu kota Tanah Datar. Di Sumatera Barat, dikenal juga Rao sebagai nama Kecamatan di Kabupaten Pasaman.

Di pertengahan Juli 2017, saya berkesempatan “melancong” ke Rao-rao. Bertemu kawan lama, Agus Rizal Bahasan. Ia menjadi pemrakarsa  (bukan pendiri, katanya) dalam merintis membangun pesantren dengan nama Kampusurau Mualimbunsu (KSM). Berikut ini adalah tulisan berupa “rekonstruksi” yang terekam dalam ingatan dari obrolan minum kopi dengan warga sekitar KSM yang tampaknya berbaur dan menjadi bagian dari pondok KSM.

Indah, Sejuk, dan Subur      

Setidaknya ada tiga berkah Ilahi di alam Minangkabau yang didapat Rao-rao: Indah, Sejuk dan Subur.

Indahnya alam Rao-rao karena letaknya di lereng Gunung Marapi.  Puncak Marapi menjulang bagai lukisan alam yang indah menawan. Melatari area kawasan Rao-rao sejauh mata memandang di ufuk Barat, arah kiblat. Di hari cerah, puncak Marapi seakan melayang di hamparan gumpalan awan putih bersinar pantulan matahari pagi. Awan putih itu berganti jingga, memerah, di senja hari. Pekat malam di Rao-rao berselimut udara dingin pegunungan. Dinginnya serasa merasuk ke tulang sumsum bagi pendatang dari daerah bersuhu panas seperti saya.

Sejuknya udara Rao rao yang berbukit karena letaknya di ketinggian daerah pegunungan berudara segar dengan aneka pepohonan yang masih terjaga. Belum dijamah dan dirambah.

Rao-rao pun dikenal sebagai daerah subur. Karena kesuburannya, Rao-rao  menjadi salah satu area di Tanah Datar yang menjadi tanah pilihan tempat bermukim penduduk asli Ranah Minang dahulu kala. Di masa penjajahan Belanda, karena kesuburan tanahnya, Rao-rao menjadi salah satu pusat perkebunan kopi yang terkenal ke mancanegara.

Hingga sekarang, jejak perkebunan kopi di Rao-rao itu masih tampak dengan jelas. Di kiri kanan sepanjang jalan ke arah bukit Marapi, terhampar pohon kopi. Mungkin karena sudah menua dan tidak produktif lagi, kebun kopi itu dibiarkan terbengkalai. Penuh dengan semak belukar dan tanamam liar. Hampir semua kebun kopi di Rao-rao adalah tanah milik perkauman.  Batas kepemilikan kebun ditandai dengan pohon pinang yang berjejer rapi.

Barisan batang pinang pembatas tanah perkauman tampak ramping  menjulang tinggi dengan kerimbunan  daunnya di puncak pohon. Seakan barisan para sesepuh dan Ninik Mamak perkauman di Rao-rao yang mengawasi tanah warisan keluarga. Melihat kebun tak terawat, adakah mereka berduka? Atau bersuka cita karena tanah warisan leluhur  tetap terjaga.

Di saat angin kencang bertiup di kawasan perkebunan, akan tampak tarian indah barisan pinang seirama hembusan angin yang meliuk searah lekuk kawasan berbukit Rao-rao.

Di ujung jalan dari gerbang menuju Pondok KSM, ada surau. Di pinggir jalan depan surau itu ada bongkahan tembok tua berbentuk tugu setinggi  sekitar 2,5 meter. Kesan tuanya tugu itu tampak dari bentuk, warna dan kondisi dindingnya yang sudah banyak kehilangan semen pelapis. Kerikil pasir warna abu-abu tua batu kali mendominasi tampilan dinding tugu. Katanya, tugu itu adalah tanda pembatas kawasan ke perkebunan kopi di masa Hindia Belanda berkuasa.

Konon, saking bagusnya mutu kopi dari Tanah Datar, termasuk dari Rao-rao, menjadi penyebab lahirnya produk kopi khas Tanah Datar, yaitu: Kopi Kawa Daun. Kopi ini diolah bukan dari biji kopi, tapi dari daun kopi. Kreatifitas warga meracik daun kopi ini menurut kisah penduduk, karena semua biji kopi dari Tanah Datar diangkut penjajah Belanda untuk dipasarkan di Eropa. Penduduk pun tidak kebagian biji kopi. Kopi di Tanah Datar menjadi komoditas istimewa yang mengundang penjajah untuk memboyongnya, hingga tak bersisa.

Tak berlebih dan sangat mungkin mewujud, ketika Ustad Agus berharap. Kelak, suatu saat nanti, kopi Rao-rao dan kawasan Tanah Datar yang sempat mendunia akan kembali berjaya. Rao-rao dengan hamparan perkebunan kopinya di tengah keindahan alamnya menjadi tempat wisata alam yang nyaman, aman dan menentramkan hati pelancong.

marapi.jpg

Bukit Bercadas Lereng Marapi: antara Berkah dan Masalahnya

Rao-rao adalah salah satu dari 10 Nagari di Kecamatan Tanah Datar. Jika menghadap ke Marapi, letak Rao-rao diapit Nagari Pasir Laweh di sebelah kiri dan di arah kanannya Nagari Koto Baru. Posisinya ini menjadikan Rao-rao memiliki keunikan tersendiri dilihat dari karakter kontur tanah di lereng  Marapi. Tebing lereng Marapi di seluruh kawasan  Rao-rao terdiri dari cadas dan bebatuan yang menjorok. Kawasan tetangganya, Nagari Koto Baru, kebagian lereng bebatuan yang relatif landai, tidak seterjal lereng di Rao-rao. Sedangkan kawasan Nagari Pasir Laweh kebagian lereng Marapi yang sebagiannya bercadas dan sebagiannya lagi tidak bercadas (tanah).

Di hari cerah, dengan mata telanjang, dari kejauhan kalau diamati dengan seksama, lereng bercadas Marapi di kawasan Rao-rao tampak  paling terjal dan curam. Tampak pula bentuk dan warna lapisan lerengnya. Ada bagian lereng yang putih warna cadas, tak bertanah dan tak berlumut. Ada yang bercampur antara warna putih dan biru/hijau lumut. Juga ada yang tampak biru dengan kerimbunan pepohonan; menandakan ada area di lereng dengan lapisan tanah/humus yang menimbun cadas lereng Marapi. Di area ini pepohonan pun tumbuh rimbun. Pemandangan ini memberikan nuansa lain khas Rao-rao yang mempesona. Rao-rao seakan menjadi kawasan yang berdinding tebing cadas gunung Marapi. Dinding raksasa yang menjorok dengan lekukan kontur tanahnya yang bergelombang. Terjal dan curam.  Kokoh dan perkasa.

Berkah dari kondisi ini menjadikan Rao-rao terbebas dari bencara alam yang biasa dihadapi kawasan lereng di pegunungan. Terbebas dari bencara tanah longsor. Terbebas dari aliran lahar Merapi ketika meletus atau batuk keras. Juga terbebas dari kemungkinan bencana galodo (banjir bandang) yang sempat melanda kasawan Nagari Pasir Laweh ke arah Batu Sangkar Tercatat, galodo dahsyat melanda Tanah Datar pada Senin pagi, 30 Maret 2009 dan 1979. Galodo menerjang kawasan sungai di Nagari Pasir Laweh yang meluap dan mengarus deras dengan kekuatan amat dahsyat. Diberitakan, galodo di tahun 2009 lebih dahsyat dari yang sebelumnya.

Hukum alam mengajarkan kepada kita bahwa di setiap kelebihan, selalu ada kekurangannya. Demikian juga dengan kontur tebing bercadas lereng Marapi yang membentengi Rao-rao. Di balik berkah yang dia dapat, terdapat kekurangan yang kerap dihadapi Rao-rao, yakni masalah ketersediaan air tanah.

Secara perhitungan awam dan sekilas bisa kita amati. Kawasan bercadas dan curam tidak bisa menampung air dengan baik. Air hujan akan deras  mengalir ke bawah. Pepohonan yang akarnya biasa menjadi penyimpan air pun tentunya lebih sedikit dan tidak serimbun di kawasan bertanah (bukan cadas/batu).

Untuk mencegah air hujan tidak melimpah dan terbuang di bagian lereng bercadas, warga di Nagari Pasir Laweh bersiasat. Di antara bagian lereng Marapi yang bertanah dan bercadas, dibangun semacam tabir atau bendungan supaya curah hujan dan aliran air lereng mengarah ke kawasan lereng yang bertanah. Tidak mengalir ke kawasan lereng bercadas yang menyambung hingga ke lereng di kawasan Rao-rao.

Sedangkan kawasan Nagari Koto Baru, meskipun kawasannya kebagian lereng Marapi yang bercadas tapi kontur tebingnya landai. Tidak seterjal dan curam lereng Marapi di kawasan Rao-rao. Kebutuhan air di kawasan ini pun terpenuhi.

Rao-rao dengan kelebihan pesona dan berkah dari posisi kawasannya, mengalami masalah ketersediaan air tanah.