cropped-mount_merapi_in_2014.jpg

Oleh A. Sanusi

(Bagian 2)

Ampangan Rao-rao dalam Impian Semusim

Tidak jelas, sejak kapan kasawan Rao-rao kekurangan air. Soalnya menurut cerita Inyiek (orang-tua tua dahulu), Rao-rao termasuk kawasan dengan air berlimpah-ruah. Di bawah tanahnya mengalir aliran sungai-sungai dan palung air. Layaknya sekerat tanah firdaus di Ranah Minang.

Pada dekade terakhir ini, Nagari Rao-Rao biasa kekurangan air. Apatah lagi bila kemarau melanda. Peristiwa dua tahun lalu (2015/6), ketiadaan air memaksa penduduk membeli air-bersih dari Pagaruyung Batusangkar. Pertangki oto seharga 200 – 300 ribu.

Sekedar gambaran umum, musim kemarau di Rao-rao setiap tahun bertandang selama  2 hingga 3 bulan. Sedangkan curah air-hujan dalam setahun sekitaran 4 bulan.

Kenapa Rao-rao jadi kekurangan air? Atau, kenapa air di kawasan Rao-rao jadi berkurang? Belum ada info yang jelas dan valid, apatah lagi untuk sampai ke penelitian.

Dalam obrolan di warung kopi, biasa kita dengar diantara penyebab air berkurang karena banyak pohon ditebang (gunung gundul). Pertambahan penduduk yang membangun rumah, hingga area resapan air berkurang dan pengguna air pun bertambah dengan pompa airnya masing-masing. Bahkan katanya sebagai efek dari pemanasan global (global warming).

Ustad Agus bertutur, suatu hari, secara tak terduga dalam obrolan berkopi hangat di teras rumah panggung berlantai bambu, ada seorang warga Rao-rao yang sangat peduli dengan masalah berkurangnya air di Rao-rao. Dia juga dengan serius menawarkan solusinya. Dengan fasih dia bertutur soal kontur tanah di lereng Marapi di area kawasan Rao-rao, perkiraan volume curah hujan dan daya serap (tampung) tanah di Rao-rao serta perkembangan pengguna air di Rao-rao.

Warga yang terkesan rada nyentrik ini sampai pada kesimpulan, solusinya adalah dengan membangun “ampangan”. Semacam “bak air” atau “danau buatan” di sekitar lereng Marapi. Sumber air ampangan ini dari curah hujan dan aliran air dari lereng Marapi. Air dari ampangan ini  bisa jadi semacam sumber air resapan. Air yang biasanya deras mengalir ke bawah lereng, jadi tertahan dan tertampung untuk diserap tanah secara perlahan ke tanah di kawasan pemukiman. Juga bisa dialirkan dengan membangun pipa air ke kawasan penduduk (semacam jalur pipa air pam).

Impian warga ini sangat menarik dan unik. Sayang gagasannya membangun ampangan di lereng Marapi belum sempat dimusyawarahkan. Belum dikupas dengan serius kemungkinannya untuk bisa mewujud.  Gagasannya menjadi impian semusim. Timbul dan bergelora dalam satu siklus musim hujan sampai kemarau. Kemudian mengendap di telan masa.

Menjemput Impian

Mungkinkah membangun ampangan di bukit bercadas lereng Marapi? Pertanyaan ini menjadi teman dalam angan di saat menyeruput kopi pagi di Rao-rao, sambil menatap lereng Merapi yang terjal dan menjulang. Di lereng Marapi, ada danau buatan berdinding dan beralas bebatuan alam dan cadas. Curah hujan dan aliran air dari lereng Marapi akan menepi dan berkumpul di danau. Danau ampangan berair bening di tengah hamparan bebukitan lereng Marapi. Danau indah menawan tempat wisata dan sekaligus dapat memenuhi kebutuhan air warga. Berteman impian ampangan di lereng Merapi, rasa kopi pun terasa semakin nikmat dan sedap.

Untuk sampai sebuah impian (harapan) mewujud, tentunya perlu semacam studi kelayakan dengan tahapan prosesnya. Setiap tahap perlu dikupas secara  mendalam dengan perhitungan yang matang dan persiapan yang memadai. Dari bentuk gambaran umum sampai ke detail teknis pun tentunya perlu perhitungan biaya serta sumbernya yang memungkinkan bisa dijangkau secara bertahap.