download (1)

Warga yang melintas berfoto dibalik indahnya Jembatan Layang Kelok Sembilan di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Sabtu, 3 Januari 2015. TEMPO/Riyan Nofitra.

TEMPO.COJakarta – Pernahkah anda rela antre 2 hinga 3 jam hanya untuk bisa berfoto (atau berswafoto) di sebuah titik yang menarik? Banyak orang bersedia melakukan itu. Bahkan kini kia marak di banyak tempat. Orang rela menunggu giliran, misalnya, hanya agar dapat berfoto di sebuah rumah pohon dengan latar tebing yang curam!

Berfoto diri dengan latar yang indah atau setting tak biasa, anak jaman sekarang menyebutnya yang instgaramable, memang tengah menjadi tren–meskpun belum sampai ke kadar mewabah. Antrean semacam itu tak hanya terjadi di sebuah destinasi wisata, tapi bisa di mana saja sepanjang visual sekeliling unik dan menarik. Di kawasan tambang pasir, misalnya!

Tentu gejala itu muncul bukan tanpa sebab. Adalah media sosial yang memungkinkan siapa saja berekspresi seleluasa mungkin, salah satunya lewat pamer foto diri. Mereka berlomba memajang foto yang akan membuat netizen bertanya, “Dimanakah itu?”.

Wisatawan menikmati pemandangan alam dari Puncak Lolai, Rantepao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, 25 Desember 2017. Libur Hari Natal dimanfaatkan warga untuk berlibur dan mengunjungi sejumlah objek wisata. ANTARA FOTO

Kegemaran ini menjangkiti anggota masyarakat tak pandang usia. Salah satu media sosial popular tempat berbagi foto itu adalah Instagram, dan dari sinilah diksi instagramable itu lahir.

Kegemaran berswafoto ini lalu ditangkap industri dan dunia pelancongan untuk dieksploatasi demi menghasilkan fulus. Banyak tujuan wisata berbenah, antara lain, dengan menggarap spot-spottertentu agar dapat dijadikan lokasi berpotret.

Faktor instragamable ini adalah perkembangan yang memancing perhatian dunia travellingsepanjang 2017.  Tentu saja sektor pelancongan utama (mainstream) seperti di Pulau Bali, Kota Yogyakarta, di Pulau Sumatera (Danau Toba, Bukttiingi), dan lain-lain, tetap menjadi penggerak utama  dunia wisata. Tapi ini ini hal yang rutin, bukan?

Maka disela rutinitas itu, munculnya gejala unik Instagramable ini menjadi layak diperbincangkan. Baru kali ini rasanya ada upaya pemanfaatan kegemaran ber-selfie sebagai unsur penting pengembangan  titik-titik pelancongan. Ini adalah sebuah terobosan.

Mari tengok Kawasan Wisata alam Kalibiru di Kabupaten Kulonprogo Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sini pengelola mesti menambah pos anggaran agar setiap tahun dapat membangun spot baru untuk berfoto.

“Memang dianggarkan setiap tahun ada tambahan untuk spot foto. Karena antrean di tiap titik yang sudah ada bisa dua sampai tiga jam,” kata Marjono, salah seorang pengelola Kalibiru.

Obyek wisata Puncak Kalibiru, Kulon Progo, Yogyakarta, Mei 2017. Tempo/Wawan Priyanto.

Kalibiru adalah hutan masyarakat di pebukitan Menoreh dengan ketinggian 450 mdpl. Ini memang tempat yang menarik. Saat berada di ketinggian, turis dapat melihat jauh ke depan, termasuk waduk Sermo dan ombak laut Selatan.

Hal serupa juga dilakukan tempat-tempat lain, misalnya destinasi Negeri di Atas Awan (Gunung Panti, Semarang dan juga ada di di Sulawesi Selatan yang mengambil nama serupa), Kelok Sembilan (Kabupaten Limapuluh Kota, Sumater Barat), Lembah Sumilir (Karanganyar, Jawa Tengah), dan lain-lain.

Kadang sebuah lokasi instagramable lahir bukan karena by design, tapi disebabkan tuntutan alamiah. Sebuah titik jembatan layang di Kelok Sembilan, Kabupaten Limapuluh Kota, misalnya, bakal digarap sebagai kawasan wisata karena kian banyak orang berfoto di sana.

Tentu saja obyek keriaan itu tidak persis di jembatan penghubung, namun di area hutan tak jauh dari tempat itu. “Izin penggunaan hutan untuk wisata telah keluar dari Kementerian Kehutanan pada Agustus 2016,” kata Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit di Padang.

Ia menjelaskan berdasarkan desain pengembangan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional II Sumatera Barat, semula di lokasi itu akan dibangun menara setinggi 40 meter dan dilengkapi kereta gantung wisata. Namun, rencana tersebut direvisi dengan menghilangkan kereta gantung. Dan ketinggian menara ditambah menjadi sekitar 60 meter.Warga yang melintas berfoto dibalik indahnya Jembatan Layang Kelok Sembilan di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Sabtu, 3 Januari 2015. TEMPO/Riyan Nofitra.

Apa yang terjadi di sebuah tambang pasir di Semarang kurang lebih sama. Tempat di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, ini diburu penggemar selfie karena panoramanya yang eksotik.

Dari pusat kota, jaraknya lebih-kurang 15 kilometer ke arah tenggara. Suguhan utamanya berupa panorama tebing-tebing dari bekas pertambangan yang membiaskan warna unik karena terpapar sinar matahari.

Secara umum tempat ini mengingatkan pada Grand Canyon di Amerika. Tapi karena nuansa coklat mendominasi warga menyebutnya Brown Canyon.

Hanya saja, belum ada naiatan pemerintah setempat untuk menjadikan Brown Canyon sebagai kawasan wisata “resmi”, barangkali karena memang aktifitas penambangan masih berlangsung di sini.

Tidak selalu dari pemerintah, ide mengembangkan sebuah kawasan ada juga yang muncul dari inisiatif warga. Mereka bergotong royong menggarap titik-titik tertentu di desanya agar orang mau datang dan berfoto di sana. Ujung-ujungnya tentu demi mendatangkan rupiah.

Brown Canyon, Semarang. Budi Purwanto

Setidaknya hal itu yang dilakukan warga di Kecamatan Ngargoyoso hingga Jenawi (Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah) dan kecamatan Gunung Panti, (Semarang).  Di pedesaan kaki gunung Lawu itu, telah muncul setidaknya dua tujuan wisata baru, yakni Lembah Sumilir dan Lembah Katresnan.

Lembah Katresnan terletak di Kecamatan Jenawi yang di tepi jalan menuju Candi Cetho. Kawasan ini dikelola para pemuda Desa Kadipekso. “Baru satu bulan ini dibuka,” kata salah satu pengelola, Suyadi, Oktober lalu.

Pada awalnya, lokasi tersebut banyak digunakan sebagai tempat foto pre-wedding. Masyarakat Desa Kadipekso akhirnya menggarap potensi tersebut dengan lebih serius. Para pemuda itu menjalin kerjasama dengan perusahaan perkebunan yang mengelola kawasan itu.

Mereka membangun beberapa properti yang siap digunakan untuk tempat berfoto, seperti menara pandang serta gubuk bambu. Tentu saja, hamparan tanaman teh menjadi latar yang memikat. Orang pun datang an bersedia membayar tiket Rp 3 ribu per orang,  “Bulan ini saja kami sudah mampu menyumbang Rp 700 ribu untuk kas pemuda,” kata Suyadi, salah seorang pengelola.

Ini adalah serial kisah sukses sepanjang 2017 soal maraknya sebuah kawasan pelancongan yang berkembang karena meyediakan titik-berfoto yang menyenangkan. Kisah yang mungkin masih akan terus berlanjut hingga tahun-tahun mendatang.

 

Sumber: https://travel.tempo.co/read/1045087/kaleidoskop-wisata-2017-tahun-pelancongan-berbasis-instagramable